Kamis, 10 September 2009

Firaun (Ramses II)



Begitu mendengar kata Mesir maka dalam benak saya langsung muncul kata Piramid, Sphinx, Mummi Firaun dan Sungai Nil. Keinginan saya untuk melihat keempatnya (terutama wajah dan sosok Firaun / Ramses II) dari dekat sangat besar karena dari usia SD saya sudah mendapat informasi mengenai keempat hal tersebut baik dari pelajaran agama maupun dari buku-buku…

Untuk dapat melihat jasad Firaun, kami harus menuju Egyptian Museum karena memang jasad Firaun ini disimpan di Museum ini. Oya, karena Mummi Firaun ini adalah daya tarik utama Museum ini, maka dia diletakkan di ruang khusus.. Untuk masuk ruang khusus ini kita harus membayar tiket lagi (selain tiket masuk Museum). Kalau tidak salah tiket masuk Museum adalah 20 pound, sedangkan tiket masuk ruangan Firaun adalah 100 pound.

Tetapi dengan bantuan tour guide, saya mendapat diskon sehingga cukup dengan membayar 60 pound. Si tour guide dengan baik hati meminjamkan kartu mahasiswanya supaya saya mendapat diskon. Ya memang salah satu tour guide kami waktu itu adalah Mahasiswa Universitas Al Azhar yang berasal dari Bandung (makasih ya Kang Dadan). Padahal wajah kita gak mirip sama sekali, tetapi Hanan, tour guide asli Cairo meyakinkan saya dengan bilang “gak papa, sama-sama pake kacamata”… Halah..

Terus kalau ditanya penjaganya pake bahasa Arab gimana dong..? masa’ saya sebagai “mahasiswa Al Azhar” tidak mengerti Bahasa Arab.. Dengan enteng Hanan bilang “sudah masuk saja, gak papa kok”.. Dan benar begitu menyerahkan Kartu Mahasiswa ke Penjaganya, dia cuma mencocokkan foto dengan wajah saya.. Tidak ada pertanyaan dan saya pun berhasil masuk ke ruangan khusus mumi Firaun..

Dari awal berangkat ke Museum, saya sangat ingin mendapatkan / mengambil foto Firaun. Namun lagi-lagi ada peraturan museum bahwa kamera dilarang dibawa masuk dan harus dititipkan di depan gerbang Museum. Seperti di Piramid, (lagi-lagi juga) saya masuk dengan mengantongi ponsel berkamera... Sebelum membeli tiket yang harganya 60 pounds tersebut, saya kembali meyakinkan diri dengan bertanya kepada Hanan apakah saya bisa mengambil foto di dalam ruangan.. Hanan cuma menjawab “kalau tidak ada Penjaga yang masuk ke dalam ruangan, kamu bisa mengambil foto”. Saya tanya lagi apakah penjaganya stand by di dalam ruangan atau bagaimana? Hanan menjelaskan bahwa setiap waktu tertentu penjaga akan masuk ke ruangan tetapi tidak sering..

Berbekal keyakinan tersebut, saya pun membeli tiket masuk (sayang kan sudah bayar tiket mahal tapi tidak bisa dapat foto jasad Firaun). Dan setelah masuk, Alhamdulillah… di dalam ruangan sedang tidak ada penjaganya.. Walaupun begitu masih ada rasa khawatir kalau tiba-tiba penjaga masuk ruangan.. Maka kesempatan itu segera saya manfaatkan untuk mengambil foto walaupun dengan sembunyi-sembunyi juga.. Saya terpaksa jalan mepet-mepet ke peti kaca tempat jasad Firaun terbaring untuk mendapatkan foto yang cukup jelas. Saya tidak mau konyol menggunakan blitz karena hal itu akan menarik perhatian pengunjung maupun penjaga di depan pintu.

Di dalam ruangan tersebut ada sekitar sembilan Mummi Firaun yang dapat dilihat. Mummi tersebut diletakkan di dalam perti kaca (seperti aquarium). Ternyata mummi-mummi yang saya lihat itu seperti manusia yang kurus kering bahkan lebih tepatnya berbentuk kerangka manusia yang hanya dibalut kulit tubuh. Kebanyakan kulitnya sudah gosong menghitam dan sedikit kemerah-merahan. Tidak ada daging tubuh yang tersisa. Namun di tengkorak kepala mereka masih terdapat rambut. Kebanyakan mummi dibalut kain sampai di dada sehingga kita hanya bisa melihat leher dan tengkorak kepalanya saja.

Oya.. waktu di Indonesia, saya mendapat informasi bahwa bila masuk ke ruangan mummi tersebut, kami harus kuat menahan bau mumi / balsam bahan pengawet mummi. Bila tidak kuat kita bisa muntah di ruangan tersebut. Ternyata informasi tersebut salah besar, karena tidak ada bau menyengat sama sekali, lha wong mumminya ditaruh dalam peti kaca yang tertutup rapat. Lagipula bila mummi disimpan di udara terbuka akan berpengaruh ada keawetan mummi tersebut. Ternyata orang tersebut belum pernah ke Museum tersebut dan hanya mendapat informasi dari orang yang pernah ke sana. Dan salah tangkap informasi pula… Bau menyengat itu adanya di ruangan di dalam pyramid bukan di ruangan mummi di museum dan baunya bukan bau balsam tapi bau keringat pengunjung di ruangan pyramid yang pengap..

Ada informasi yang menarik disampaikan tour guide bahwa pada saat Firaun (Ramses II) ditemukan, tangannya dalam keadaan siap berperang yaitu tangan kanan memegang pedang dan tangan kiri memegang perisai.. Ketika dibalut kain untuk dimummi, kedua tangan tersebut disilangkan di depan dada.. Namun ketika ribuan tahun kemudian ditemukan dan sejalan dibukanya kain yang membalutnya, ternyata tangan Firaun yang tadinya disilangkan kembali ke posisi semula yaitu posisi tangan seperti memegang senjata dan perisai..

Saat ini terdapat dua pendapat baru yang berbeda dengan pendapat umum yang lama beredar mengenai Firaun, yaitu :

1. bahwa Firaun mati bukan karena mati tenggelam. Hasil penelitian para ahli menyebutkan di tengkorak Firaun terdapat bagian yang remuk. Demikian juga di leher dan dada ada bekas tusukan benda tajam. Dalam bahasa Quran dan Bible dinyatakan bahwa Firaun "dihempaskan" ke laut. Jadi telah terjadi pertempuran dan Firaun memang sudah kalah dan sekarat sebelum ditemukan mati di tepi Laut Merah.

2. bahwa kejadiannya bukan di Laut Merah tetapi di tempat yang dinamakan Laut Alang-alang oleh masyarakat setempat. Hal ini akibat kesalahan membaca Reeds Sea menjadi dibaca Red Sea. Wallahu alam..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar